Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.
![]() |
Keindahan cinta
antara Intan dan Tony begitu mengharu biru, Seolah mengisahkan sebuah
perjalanan remaja masa kini yang memberikan bekas kenangan dan semangat yang
selalu terpatri dalam sanubari. Keindahan cinta remaja yang tak tercemar oleh kotoran
rendahan apapun yang selalu mengatas namakan cinta. Keduanya selalu ada
keterikatan untuk saling mengisi dan saling menguatkan. Bukanya saling
mendukung untuk bolos sekolah ataupun berjamaah menghabiskan uang spp sekolah
mereka untuk jajan atau main game di warnet. Inilah sebuah cinta remaja yang
terasa manis semanis madu bukanya menjadi racun yang dapat menghancurkan masa
depan sang pemujanya.
Akan ada perasaan
kehilangan yang sewajarnya, tatkala satu diantara mereka tak terlihat dikantin
sekolah. Karena mereka juga paham betul bahwa mereka juga masih membutuhkan
teman sekolah yang lainya, paling-paling salah satu diantaranya hanya sekedar
menanyakan teman dekatnya saja. Teramat berbeda dengan remaja sekarang yang suka
lebay, alay, dan jijay… sampai-sampai seluruh isi dunia harus tahu jika kekasih
hatinya ga masuk sekolah lantaran sakit, bilang sepi lah , nggak semangat lah
atau apapun biar dunia menjadi tahu…padahal rasa empati dan simpatinya belum
tentu sesuai dengan apa yang ada di akun facebooknya itu.
Sudah beberapa hari terakhir ini Tony tak terlihat
masuk sekolah. Pada awalnya Intan merasakan hal wajar, mungkin dia sakit, atau
ada keperluan lainya, karena dia juga tahu kalau Tony disini tinggal bersama neneknya.
Namun kali ini sungguh terasa berbeda, karena sudah 3 hari lebih Tony tak
terlihat dikantin sekolah, beberapa teman dekatnya juga jawabanya sama, mereka bilang “tidak tahu” ketika Intan
mencoba menanyakan bagaimana keberadaan Tony. Rasa kawatir pun mulai menghantui
perasaan Intan ada apa sebenarnya, apa yang terjadi dengan pujaan hatinya.
Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.
Ketika Intan
sedang menghampiri sepedanya diparkiran, tiba-tiba dia terusik oleh bayangan
yang begitu di kenalnya. “Tony…Ton…..” sapa Intan dari kejauhan.. Hanya sebuah
senyuman kecil yang terbersit dari wajah
Tony, sehingga mendorong Intan untuk mendekati tempat Tony berada, tempat biasa
mereka ngobrol-ngobrol kecil sebelum pulang sekolah. “Maafin aku ya…” Tony
mengawali pembicaraan. Intan semakin bingung saja dibuatnya. “Ada apa sih
sebenarnya..ko lama ga masuk sekolah..kamu sakit..?”.. Setelah lama terdiam
Tony akhirnya berkata. “Aku nggak sakit ko…Aku besok harus pindah sekolah ke
kota lain, ngikutin dinas Ayahku..”. Intan hanya terdiam mendengar penjelasan
Tony. Dan Akhirnya Tony pun memberikan penjelasan. “Sebenarnya aku ingin tetap
disini tinggal dirumah nenek, namun Ayahku kurang setuju.., Segala sesuatunya
sudah diurus Ayah, ini hari terakhirku di sini. Besok aku sudah pindah
sekolah”. Intan hanya diam, ia tidak tahu harus bilang apa. Sangat terlihat
wajah lugunya yang mengisyaratkan sebuah kekecewaan dan entah apa sehingga dia
terlihat teramat bingung. Mungkin dalam hati kecilnya dia berkata.” kenapa
nggak bilang dari kemarin sih…atau mungkin ko terlalu mendadak..?”. Belum
selesai Intan memikirkan kata-kata yang ada di benaknya , Tony bilang “Nanti
jam 2 temui aku di pos kampling hijau dekat SD ya..”
Akhirnya mereka
berdua pulang meninggalkan sekolah yang
telah mulai sepi. Intan mengayuh sepedanya dengan sisa tenaga yang ada, karena
rasa kaget atas perkataan Tony. Sesampai dirumah pun Intan masih bingung,
haruskah dia temui Tony nanti atau tidak. Padahal ini adalah hari terakhirnya disini, karena keesokan harinya dia telah
pindah ke Bondowoso mengikuti tugas Ayahnya. Satu sisi dia bingung dengan alasan apa agar dia mendapat ijin orang
tuanya keluar rumah siang itu, sedangkan hari itu bukan jadwalnya belajar
bersama. “Sudahlah nggak usah ditemui..daripada dimarahin Ibu ” dalam hati
Intan berkata. “Tapi kasihan ya kalau Tony nungguin…lagian ini kan terakhir ketemu,
enggak tahu lagi kapan bisa ketemu..” Intan pun semakin bingung dengan
pilihanya, akhirnya dia masuk kamar untuk tidur siang.
Dibawah teriknya
matahari siang itu, terlihat seorang remaja putri yang terengah mengayuh
sepedanya, seolah ada sesuatu hal yang ingin dikejarnya. Intan….ya…benar sekali Intan ..ternyata dia telah mampu menguraikan
kebingungan yang ada dihatinya, Dia berusaha mengendap-endap keluar rumah,
bersama sepedanya. Setelah dia memasang sebuah guling dengan berbalut selimut dikamarnya.
Karena dia tahu betul bagaimana reaksi sang Ibu ketika Intan ketahuan keluar
rumah disaat tak ada jadwal belajar bersama.
Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.
Dengan wajah
berkeringat, dan nafas terengah Intan terus mengayuh sepeda menuju tempat yang
dijanjikan Tony untuk bertemu terakhir kalinya, karena dia tahu Tony
menunggunya jam 14.00, padahal waktu itu jam 13. 55. Dia tak ingin kesempatan
terakhir bertemu Tony berlalu begitu saja. Akhirnya dengan sisa tenaga dan semangat
untuk menemui sang pujaan hati, sampailah Intan di sebuah perempatan jalan
dekat SD, tepat di depan pos ronda cat
hijau.
“Hampir saja aku
tinggalkan tempat ini…” Belum saja Intan berhenti dengan sempurna Tony telah
menyambutnya dengan sebuah ucapan yang membuatnya semakin bersalah. “Maaf…” Hanya itu yang
diucapkan Intan. Beberapa saat setelah
Intan mengatur nafasnya yang terengah. “Ini…..dibawa ya…tolong dipakai kalo
kamu masih suka aku...” Ujar Tony seraya melepaskan sebuah gelang rajut dari
tanganya. “Ko mendadak banget sih..pindahnya ..?” Intan membalas ucapan Tony
dengan sebuah pertanyaan. “Selama tiga hari terakhir ini sebenarnya aku sedang
berpikir dan membujuk Ayah agar aku tetap disini, namun Ayah tak mengijinkanku tetap tinggal dirumah
nenek, dan aku harus tetap ikut pindah
ke Bondowoso bersamanya”.
Itulah
penjelasan yang disampaikan Tony, sambil terlihat memakaikan gelang rajut ke
tangan Intan. Sungguh tersa syahdu pertemuan terakhir disiang itu. Meski tak
banyak kata-kata yang terucap diantara keduanya, namun mereka seolah menikmati
sebuah pertemuan dengan sejuta makna. Dan untuk beberapa saat pun mereka hanya
terdiam, seolah mengikuti jalan pikiranya masing-masing, dan mungkin diantara
kedua remaja kecil itu bingung apa dan bagaimana yang harus mereka lakukan
disaat terakhir mereka bertemu dan harus berpisah. Begitu jelas keluguan dan
kepolosan diantara keduanya.
“Udah ya….nanti
jam tiga aku harus udah berangkat…” Tony bermaksud ingin menyudahi pertemuan
itu, karena memang waktu mereka hanya sebentar, Intan saja tiba di tempat itu
jam 14.10. Disaat Tony mau melangkahkan kaki untuk pergi, Intan berkata “…Aku
suka itu…” seraya menunjuk kaos yang sedang di pakai Tony. Dan itupun semakin
membuatnya bingung. “jangan..janga….aann..” Intan setengah berteriak disaat
Tony bermaksud ingin melepas kaos yang dipakainya. “aku ambilkan kaosku yang
dirumah ya..” Tony menawarkan. “ Nggak..nggak usah ko aku hanya bilang suka aja…” Intan
menolaknya. Dan akhirnya mereka pun berpisah.
Tet…teeeet…teeeeeet…..tanda bel berakhirnya
jam pelajaran berbunyi. Seluruh siswa di sekolah Intan pun berhamburan keluar
kelas menuju parkiran sepeda. Seperti biasa Intan terlihat diantara siswi yang
terakhir meninggalkan kelas. Ketika Intan sampai di tempat parkir, dia melihat
ada sebuah benda aneh yang ada di dalam keranjang sepedanya, disitu berdiri
seorang siswa berseragam, namun bukan Tony tentunya. Dia adalah Andi saudara
sepupu Tony yang belum pernah diketahui sebelumnya, dia mendapat amanat untuk
menyampaikan sesuatu ke atas keranjang sepeda Intan. Alangkah kaget yang tiada
terkiranya hati Intan, ternyata itu adalah kaos yang kemarin siang dipakai oleh
Tony. Inilah sebuah kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan oleh Intan
Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar