Selamat Tahun Baru 2014

Jadilah cahaya.
Jadilah binar dalam gelap.
Jadilah inspirasi & membuat perbedaan besar dalam hati lain,

Selamat Tahun Baru 2014

 

Wishing u SUNLIGHT in u’r heart
SUCCESS in u’r path
ANSWERS to u’r prayers..
HAPPINESS in u’r life..
SMILE in u’r face..
Happy New Year

 

Rohmat Waluyo 

http://rohmatwaluyo.blogspot.com


Cinta Untuk Kekasihku

                   Cinta Untuk Kekasihku
http://rohmatwaluyo.blogspot.com
Cinta sebuah rasa yang tak bisa dibaca
Tak cukup kata untuk meguraikannya
biasa saja mereka bilang itu cinta
Iya...itu adalah cinta

Ketika asa tak lagi bermakna
Ego tak lagi berkuasa
Disana ada setitik harapan cinta
Iya...itu adalah cinta

Kekasihku yang setia
Kekasihku yang kucinta
Dia mengajarkanku mengenalnya
Menyentuh Hatinya,Disana ada cinta
Iya... itu adalah cinta

Cintaku Cintanya
Rasaku rasanya....
Aku tak memintanya tuk setia
Aku tak memintanya tuk selalu ada
Tapi dialah cinta yang mengerti segala rasa
Iya .... itu adalah cinta
Cinta Untuk Kekasihku

Alunan Sebuah Lagu Cinta.

Alunan Sebuah Lagu Cinta.
http://rohmaatwaluyo.blogspot.com

     Waktu terus bergulir menggerakkan jari-jemarinya, detik demi detik pun terus berlalu..meninggalkan angka yang telah terlewati. Hari pun terus berulang... tahun pun terus berlalu. Menjadikan sebuah kehidupan terus bergerak dan maju. Karena sesungguhnya arti sebuah kehidupan itu adalah sebuah perubahan dan pergerakan itu sendiri. Pohon mawar yang semula hanya menghijau karena daunya, kini telah bertumbuh dengan  hiasan beberapai tangkai mawar nan mengharum.

     Karena pergerakkan waktu itu pula yang telah memberikan warna yang berbeda pada seorang Intan.  Intan yang dulu adalah sesorang remaja putri  yang tomboy dengan potongan rambut khas cowok, sikap yang cuek dan seolah tak peduli, kini telah berubah menjadi seorang remaja putri  yang feminim dengan rambut panjangnya, meski terkadang masih suka terlihat sisa-sisa tomboynya dan sikap tengilnya. Tentunya kita takkan percaya jika bertemu dengan sosok Intan saat ini yang telah berubah.  Secara penampilan saja dapat terlihat baik itu dari style rambut, pakaian, maupun aksesories yang digunakanya.

     Siang itu memang tidak ada pelajaran tambahan sebagai persiapan untuk ujian kelulusan, sehingga Intan lebih memilih untuk pergi main ke tempat teman sekelasnya, Shinta. Memang mereka berdua telah akrab semenjak dari kelas satu SMA. “Huft….panasnya siang ini… jadi makin capek ya rasanya, meski engga ada pelajaran tambahan”… Intan merebahkan tubuhnya di tempat tidur Shinta. “mau yang seger..?”….Shinta menimpali.  “Minum es donk……” Nada Intan setengah meminta. “Ada  yang seger lagi lho….mau..?  Shinta menawarkan pilihan. “Apaan tuh…?” Intan jadi penasaran. “Minum es sambil mandi…..heheheehehehe…..”  Kamar tidur pun menjadi awut-awutan karena Intan merasa dikerjain Shinta.

     Siang itu memang terasa lebih panas, sehingga tenaga dan pikiran terasa lebih  capek. Dua orang sahabat itu terlihat sedang duduk santai didepan teras rumah sambil menikmati segelas es campur di tangan masing-masing, dan dihadapan mereka ada beberapa bunkus makanan kecil kesukaan mereka. Sesekali terdengar diantara pembicaraan mereka sebuah perdebatan kecil dan juga tawa lepas sebagai bukti keakraban diantara keduanya. Sepertinya mereka menikmati sekali obrolan siang itu. Namun..ditengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba saja Intan tertegun, seperti sedang menahan sesuatu. “Ngapain….kebelet….?” Tanya Shinta curiga. “Tahu nggak siapa tuh yang nyanyi…?” Intan balik bertanya. “Saudaranya tetanggaku” Jawab Shinta enteng. “Lihat yuuk..penasaran nih…” Intan menarik lengan Shinta. “Enggak ah ngapain malu-maluin aja..” Shinta menolak. “Ayoo…..pliss deh….” Intan mulai memaksa. “ Ada apaan sih ko aneh banget…kamu kesurupan ya…” Shinta makin penasaran di buatnya.

Alunan Sebuah Lagu Cinta.
     “Ehmmmm…..Shinta ngambil mangga aja yuk…”…Intan mulai mengeluarkan ide. “Intan..yang baik hati dan tidak somboong….Aku ga bias naik pohon…” Shinta menjawab dengan jujur. “Tapi ada meja kan..?yuuk kita pake meja aja….” Intan membujuk . Melihat sikap sahabatnya yang makin aneh itu, akhirnya Shinta luluh dan muncul perasaan nggak tega juga, meskipun dalam benaknya muncul beberapa pertanyaan aneh. “ Ada apa sih sebenarnya dengan Intan, sakit kah..?”

     Beberapa saat setelah bersusah payah dengan sebuah meja, Shinta pun telah berada di atas pohon mangga.  “Intan…cowo itu ganteng banget…” .Makin penasaran saja hati  Intan, dengan  suara nyanyian dari seorang cowok di rumah sebelah, Intan hafal betul karakter suara itu. Baginya suara itu begitu familier ditelinganya. Namun dia masih tidak percaya ada apa sebenarnya, mungkinkah karena halusinasinya saja, atau memang hanya kebetulan. Intan mencoba melompat untuk menerobos pandanganya kea rah suara itu, namun tetap saja gagal untuk mengetahui siapakah gerangan  sebenarnya yang menyanyikan sebuah lagu cinta itu. “Gentian don Shin…”  Intan mulai merengek.

     “Eiiiit…!!!!!!...” Hampir saja Intan jatuh. Intan terpeleset saat kakinya hendak  meraih dahan yang ada didepanya. Untung saja Intan lekas meraih batang pohon mangga itu. Tiba-tiba suara nyanyian tentang lagu cinta darii  rumahsebelah  itu pun terhenti. Terlihat  jelas oleh Intan. Bahwa sosok yang kaget oleh jeritanya itu adalah seseorang yang pernah dikenalnya, semakin deg-degan saja perasaan Intan. “Ada apa mbak..?” Suara itu mendekati tempat Intan dan Shinta yang sedang pura-pura nyari buah mangga. “Ngga apa-apa ko mas..” Intan spontan menjawabnya, sementara Shinta masih tertegun oleh kehadiran seseorang dari rumah sebelah itu.

     Mendengar jawaban Intan, cowo itupun kaget, dan penasaran juga setelah melihat Intan. Seolah dia  tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ehhmmm….Intan.. ya”..cowok itu akhirnya memastikan. “Ehhm…. iya…, Tony ya..” Intan menjawab dengan tersipu,ia pun berusaha memastikan terhadap apa yang dilihat di depannya itu. Rasa penasaran yang ada di benak Intan, terbayar sudah. Ternyata suara itu adalah suara Tony, kekasih hatinya dulu ketika dibangku SMP, masih begitu lekat dalam benaknya  sesuatu yang menyangkut tentang Tony termasuk suaranya, seseorang yang telah memberikan warna dalam kehidupan Intan sebagai cinta pertamanya. Kini mereka berdua telah menginjak dewasa, Tony telah menjadi mahasiswa, sementara Intan kelas tiga SMA. Mereka akhirnya  berbagi cerita dengan penuh keakraban,Intan pun memberi penjelasan kepada Shinta, bahwa mereka berdua pernah dekat dan saling mengisi sewaktu masih duduk di bangku SMP . Seolah memutar kembali kenangan-kenangana manis diantara keduanya. Sebuah pertemuan yang tak terencana, sebuah nostalgia asmara karena alunan sebuah lagu cinta. Keindahan cinta akan menjadikan hidup kita menjadi semakin indah.
Alunan Sebuah Lagu Cinta.

     

Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.

Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.  
http://rohmatwaluyo.blogspot.com


     Keindahan cinta antara Intan dan Tony begitu mengharu biru, Seolah mengisahkan sebuah perjalanan remaja masa kini yang memberikan bekas kenangan dan semangat yang selalu terpatri dalam sanubari. Keindahan cinta remaja yang tak tercemar oleh kotoran rendahan apapun yang selalu mengatas namakan cinta. Keduanya selalu ada keterikatan untuk saling mengisi dan saling menguatkan. Bukanya saling mendukung untuk bolos sekolah ataupun berjamaah menghabiskan uang spp sekolah mereka untuk jajan atau main game di warnet. Inilah sebuah cinta remaja yang terasa manis semanis madu bukanya menjadi racun yang dapat menghancurkan masa depan sang pemujanya.

     Akan ada perasaan kehilangan yang sewajarnya, tatkala satu diantara mereka tak terlihat dikantin sekolah. Karena mereka juga paham betul bahwa mereka juga masih membutuhkan teman sekolah yang lainya, paling-paling salah satu diantaranya hanya sekedar menanyakan teman dekatnya saja. Teramat berbeda dengan remaja sekarang yang suka lebay, alay, dan jijay… sampai-sampai seluruh isi dunia harus tahu jika kekasih hatinya ga masuk sekolah lantaran sakit, bilang sepi lah , nggak semangat lah atau apapun biar dunia menjadi tahu…padahal rasa empati dan simpatinya belum tentu sesuai dengan apa yang ada di akun facebooknya itu.

     Sudah  beberapa hari terakhir ini Tony tak terlihat masuk sekolah. Pada awalnya Intan merasakan hal wajar, mungkin dia sakit, atau ada keperluan lainya, karena dia juga tahu kalau Tony disini tinggal bersama neneknya. Namun kali ini sungguh terasa berbeda, karena sudah 3 hari lebih Tony tak terlihat dikantin sekolah, beberapa teman dekatnya juga jawabanya sama,  mereka bilang “tidak tahu” ketika Intan mencoba menanyakan bagaimana keberadaan Tony. Rasa kawatir pun mulai menghantui perasaan Intan ada apa sebenarnya, apa yang terjadi dengan pujaan hatinya.

Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.
    Ketika Intan sedang menghampiri sepedanya diparkiran, tiba-tiba dia terusik oleh bayangan yang begitu di kenalnya. “Tony…Ton…..” sapa Intan dari kejauhan.. Hanya sebuah senyuman kecil  yang terbersit dari wajah Tony, sehingga mendorong Intan untuk mendekati tempat Tony berada, tempat biasa mereka ngobrol-ngobrol kecil sebelum pulang sekolah. “Maafin aku ya…” Tony mengawali pembicaraan. Intan semakin bingung saja dibuatnya. “Ada apa sih sebenarnya..ko lama ga masuk sekolah..kamu sakit..?”.. Setelah lama terdiam Tony akhirnya berkata. “Aku nggak sakit ko…Aku besok harus pindah sekolah ke kota lain, ngikutin dinas Ayahku..”. Intan hanya terdiam mendengar penjelasan Tony. Dan Akhirnya Tony pun memberikan penjelasan. “Sebenarnya aku ingin tetap disini tinggal dirumah nenek, namun Ayahku kurang setuju.., Segala sesuatunya sudah diurus Ayah, ini hari terakhirku di sini. Besok aku sudah pindah sekolah”. Intan hanya diam, ia tidak tahu harus bilang apa. Sangat terlihat wajah lugunya yang mengisyaratkan sebuah kekecewaan dan entah apa sehingga dia terlihat teramat bingung. Mungkin dalam hati kecilnya dia berkata.” kenapa nggak bilang dari kemarin sih…atau mungkin ko terlalu mendadak..?”. Belum selesai Intan memikirkan kata-kata yang ada di benaknya , Tony bilang “Nanti jam 2 temui aku di pos kampling hijau dekat SD ya..”

     Akhirnya mereka berdua  pulang meninggalkan sekolah yang telah mulai sepi. Intan mengayuh sepedanya dengan sisa tenaga yang ada, karena rasa kaget atas perkataan Tony. Sesampai dirumah pun Intan masih bingung, haruskah dia temui Tony nanti atau tidak. Padahal ini adalah hari terakhirnya  disini, karena keesokan harinya dia telah pindah ke Bondowoso mengikuti tugas Ayahnya. Satu sisi dia bingung  dengan alasan apa agar dia mendapat ijin orang tuanya keluar rumah siang itu, sedangkan hari itu bukan jadwalnya belajar bersama. “Sudahlah nggak usah ditemui..daripada dimarahin Ibu ” dalam hati Intan berkata. “Tapi kasihan ya kalau  Tony nungguin…lagian ini kan terakhir ketemu, enggak tahu lagi kapan bisa ketemu..” Intan pun semakin bingung dengan pilihanya, akhirnya dia masuk kamar untuk tidur siang.

     Dibawah teriknya matahari siang itu, terlihat seorang remaja putri yang terengah mengayuh sepedanya, seolah ada sesuatu hal yang ingin dikejarnya.  Intan….ya…benar sekali  Intan ..ternyata dia telah mampu menguraikan kebingungan yang ada dihatinya, Dia berusaha mengendap-endap keluar rumah, bersama sepedanya. Setelah dia memasang sebuah guling dengan berbalut selimut dikamarnya. Karena dia tahu betul bagaimana reaksi sang Ibu ketika Intan ketahuan keluar rumah disaat tak ada jadwal belajar bersama.

Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.
     Dengan wajah berkeringat, dan nafas terengah Intan terus mengayuh sepeda menuju tempat yang dijanjikan Tony untuk bertemu terakhir kalinya, karena dia tahu Tony menunggunya jam 14.00, padahal waktu itu jam 13. 55. Dia tak ingin kesempatan terakhir bertemu Tony berlalu begitu saja. Akhirnya dengan sisa tenaga dan semangat untuk menemui sang pujaan hati, sampailah Intan di sebuah perempatan jalan dekat SD, tepat  di depan pos ronda cat hijau.

     “Hampir saja aku tinggalkan tempat ini…” Belum saja Intan berhenti dengan sempurna Tony telah menyambutnya dengan sebuah ucapan yang membuatnya  semakin bersalah. “Maaf…” Hanya itu yang diucapkan Intan.  Beberapa saat setelah Intan mengatur nafasnya yang terengah. “Ini…..dibawa ya…tolong dipakai kalo kamu masih suka aku...” Ujar Tony seraya melepaskan sebuah gelang rajut dari tanganya. “Ko mendadak banget sih..pindahnya ..?” Intan membalas ucapan Tony dengan sebuah pertanyaan. “Selama tiga hari terakhir ini sebenarnya aku sedang berpikir dan  membujuk Ayah  agar aku tetap disini, namun Ayah  tak mengijinkanku tetap tinggal dirumah nenek, dan aku harus tetap  ikut pindah ke Bondowoso  bersamanya”.

      Itulah penjelasan yang disampaikan Tony, sambil terlihat memakaikan gelang rajut ke tangan Intan. Sungguh tersa syahdu pertemuan terakhir disiang itu. Meski tak banyak kata-kata yang terucap diantara keduanya, namun mereka seolah menikmati sebuah pertemuan dengan sejuta makna. Dan untuk beberapa saat pun mereka hanya terdiam, seolah mengikuti jalan pikiranya masing-masing, dan mungkin diantara kedua remaja kecil itu bingung apa dan bagaimana yang harus mereka lakukan disaat terakhir mereka bertemu dan harus berpisah. Begitu jelas keluguan dan kepolosan diantara keduanya.


     “Udah ya….nanti jam tiga aku harus udah berangkat…” Tony bermaksud ingin menyudahi pertemuan itu, karena memang waktu mereka hanya sebentar, Intan saja tiba di tempat itu jam 14.10. Disaat Tony mau melangkahkan kaki untuk pergi, Intan berkata “…Aku suka itu…” seraya menunjuk kaos yang sedang di pakai Tony. Dan itupun semakin membuatnya bingung. “jangan..janga….aann..” Intan setengah berteriak disaat Tony bermaksud ingin melepas kaos yang dipakainya. “aku ambilkan kaosku yang dirumah ya..” Tony menawarkan. “ Nggak..nggak usah  ko aku hanya bilang suka aja…” Intan menolaknya. Dan akhirnya mereka pun berpisah.


     Tet…teeeet…teeeeeet…..tanda bel berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Seluruh siswa di sekolah Intan pun berhamburan keluar kelas menuju parkiran sepeda. Seperti biasa Intan terlihat diantara siswi yang terakhir meninggalkan kelas. Ketika Intan sampai di tempat parkir, dia melihat ada sebuah benda aneh yang ada di dalam keranjang sepedanya, disitu berdiri seorang siswa berseragam, namun bukan Tony tentunya. Dia adalah Andi saudara sepupu Tony yang belum pernah diketahui sebelumnya, dia mendapat amanat untuk menyampaikan sesuatu ke atas keranjang sepeda Intan. Alangkah kaget yang tiada terkiranya hati Intan, ternyata itu adalah kaos yang kemarin siang dipakai oleh Tony. Inilah sebuah kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan oleh Intan
Sebuah Kenangan Indah Tak Terlupakan.