Alunan Sebuah Lagu Cinta.
Waktu terus
bergulir menggerakkan jari-jemarinya, detik demi detik pun terus
berlalu..meninggalkan angka yang telah terlewati. Hari pun terus berulang... tahun
pun terus berlalu. Menjadikan sebuah kehidupan terus bergerak dan maju. Karena
sesungguhnya arti sebuah kehidupan itu adalah sebuah perubahan dan pergerakan
itu sendiri. Pohon mawar yang semula hanya menghijau karena daunya, kini telah
bertumbuh dengan hiasan beberapai tangkai
mawar nan mengharum.
Karena
pergerakkan waktu itu pula yang telah memberikan warna yang berbeda pada
seorang Intan. Intan yang dulu adalah
sesorang remaja putri yang tomboy dengan
potongan rambut khas cowok, sikap yang cuek dan seolah tak peduli, kini telah
berubah menjadi seorang remaja putri yang feminim dengan rambut panjangnya, meski
terkadang masih suka terlihat sisa-sisa tomboynya dan sikap tengilnya. Tentunya
kita takkan percaya jika bertemu dengan sosok Intan saat ini yang telah
berubah. Secara penampilan saja dapat
terlihat baik itu dari style rambut, pakaian, maupun aksesories yang
digunakanya.
Siang itu memang
tidak ada pelajaran tambahan sebagai persiapan untuk ujian kelulusan, sehingga
Intan lebih memilih untuk pergi main ke tempat teman sekelasnya, Shinta. Memang
mereka berdua telah akrab semenjak dari kelas satu SMA. “Huft….panasnya siang
ini… jadi makin capek ya rasanya, meski engga ada pelajaran tambahan”… Intan
merebahkan tubuhnya di tempat tidur Shinta. “mau yang seger..?”….Shinta
menimpali. “Minum es donk……” Nada Intan
setengah meminta. “Ada yang seger lagi
lho….mau..? Shinta menawarkan pilihan.
“Apaan tuh…?” Intan jadi penasaran. “Minum es sambil
mandi…..heheheehehehe…..” Kamar tidur
pun menjadi awut-awutan karena Intan merasa dikerjain Shinta.
Siang itu memang
terasa lebih panas, sehingga tenaga dan pikiran terasa lebih capek. Dua orang sahabat itu terlihat sedang
duduk santai didepan teras rumah sambil menikmati segelas es campur di tangan
masing-masing, dan dihadapan mereka ada beberapa bunkus makanan kecil kesukaan
mereka. Sesekali terdengar diantara pembicaraan mereka sebuah perdebatan kecil dan
juga tawa lepas sebagai bukti keakraban diantara keduanya. Sepertinya mereka
menikmati sekali obrolan siang itu. Namun..ditengah-tengah obrolan mereka,
tiba-tiba saja Intan tertegun, seperti sedang menahan sesuatu.
“Ngapain….kebelet….?” Tanya Shinta curiga. “Tahu nggak siapa tuh yang nyanyi…?”
Intan balik bertanya. “Saudaranya tetanggaku” Jawab Shinta enteng. “Lihat
yuuk..penasaran nih…” Intan menarik lengan Shinta. “Enggak ah ngapain
malu-maluin aja..” Shinta menolak. “Ayoo…..pliss deh….” Intan mulai memaksa. “
Ada apaan sih ko aneh banget…kamu kesurupan ya…” Shinta makin penasaran di
buatnya.
“Ehmmmm…..Shinta
ngambil mangga aja yuk…”…Intan mulai mengeluarkan ide. “Intan..yang baik hati
dan tidak somboong….Aku ga bias naik pohon…” Shinta menjawab dengan jujur.
“Tapi ada meja kan..?yuuk kita pake meja aja….” Intan membujuk . Melihat sikap
sahabatnya yang makin aneh itu, akhirnya Shinta luluh dan muncul perasaan nggak
tega juga, meskipun dalam benaknya muncul beberapa pertanyaan aneh. “ Ada apa
sih sebenarnya dengan Intan, sakit kah..?”
Beberapa saat
setelah bersusah payah dengan sebuah meja, Shinta pun telah berada di atas
pohon mangga. “Intan…cowo itu ganteng
banget…” .Makin penasaran saja hati Intan, dengan
suara nyanyian dari seorang cowok di rumah sebelah, Intan hafal betul
karakter suara itu. Baginya suara itu begitu familier ditelinganya. Namun dia
masih tidak percaya ada apa sebenarnya, mungkinkah karena halusinasinya saja,
atau memang hanya kebetulan. Intan mencoba melompat untuk menerobos pandanganya
kea rah suara itu, namun tetap saja gagal untuk mengetahui siapakah gerangan sebenarnya yang menyanyikan sebuah lagu cinta
itu. “Gentian don Shin…” Intan mulai
merengek.
“Eiiiit…!!!!!!...”
Hampir saja Intan jatuh. Intan terpeleset saat kakinya hendak meraih dahan yang ada didepanya. Untung saja
Intan lekas meraih batang pohon mangga itu. Tiba-tiba suara nyanyian tentang lagu
cinta darii rumahsebelah itu pun terhenti. Terlihat jelas oleh Intan. Bahwa sosok yang kaget oleh
jeritanya itu adalah seseorang yang pernah dikenalnya, semakin deg-degan saja
perasaan Intan. “Ada apa mbak..?” Suara itu mendekati tempat Intan dan Shinta
yang sedang pura-pura nyari buah mangga. “Ngga apa-apa ko mas..” Intan spontan
menjawabnya, sementara Shinta masih tertegun oleh kehadiran seseorang dari
rumah sebelah itu.
Mendengar jawaban Intan, cowo itupun kaget,
dan penasaran juga setelah melihat Intan. Seolah dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ehhmmm….Intan..
ya”..cowok itu akhirnya memastikan. “Ehhm…. iya…, Tony ya..” Intan menjawab dengan
tersipu,ia pun berusaha memastikan terhadap apa yang dilihat di depannya itu. Rasa
penasaran yang ada di benak Intan, terbayar sudah. Ternyata suara itu adalah
suara Tony, kekasih hatinya dulu ketika dibangku SMP, masih begitu lekat dalam
benaknya sesuatu yang menyangkut tentang
Tony termasuk suaranya, seseorang yang telah memberikan warna dalam kehidupan
Intan sebagai cinta pertamanya. Kini mereka berdua telah menginjak dewasa, Tony
telah menjadi mahasiswa, sementara Intan kelas tiga SMA. Mereka akhirnya berbagi cerita dengan penuh keakraban,Intan
pun memberi penjelasan kepada Shinta, bahwa mereka berdua pernah dekat dan saling
mengisi sewaktu masih duduk di bangku SMP . Seolah memutar kembali
kenangan-kenangana manis diantara keduanya. Sebuah pertemuan yang tak terencana,
sebuah nostalgia asmara karena alunan sebuah lagu cinta. Keindahan cinta akan menjadikan
hidup kita menjadi semakin indah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar