Surat Cinta Dari Sang Idola.
Hari-hari dilalui Intan dengan penuh semangat dan pengalaman baru. Bannyak cerita seru bersama teman-teman remaja seusianya. Intan yang dulu masih terlihat imut dan lucu, kini telah berubah menjadi seorang remaja putri yang manis, namun kesan tomboy dan cueknya masih tetap melekat pada dirinya. Serunya naik sepeda ke sekolah, yang terkadang harus diklakson mobil karena memenuhi seluruh badan jalan. Pernah juga diantara meraka ada yang harus masuk got lantaran keasyikan ngobrol.
Intan memang punya kebiasaan berbeda dengan beberapa teman lainya. Meskipun saat berangkat meraka bersama-sama, tapi Intan lebih memilih pulang belakangan. Itu bukan karena apa-apa, tapi karena Intan nggak suka desak-desakan aja. Bagi Intan berebut ngambil sepeda saat pulang sekolah tak ubahnya seperti anak ayam yang terlepas dari kandangnya, makanya Intan memilih pulang belakangan.
Beberapa hari terakhir ini ada sebuah kejadian aneh yang selalu dijumpai Intan. Setiap dia ngambil sepeda di parkiran , pasti ada lipatan kertas di bawah sadel sepedanya. Ternyata kali ini pun sudah terjadi yang ke tiga kalinya, sehingga mendorong Intan untuk melihat apa sih sebenarnya dengan lipatan kertas itu. " Siapa sih sebenarnya yang suka jail gini......"dalam hatinya berkata seraya membuka lipatan kertas yang diambilnya dari sadel sepeda. " Ai lov yu"....begitu intan membaca kertas yang bertuliskan I love You itu. Dirobek dan digenggamnya kertas itu, kemudian dilemparkanya ke tempat sampah yang tak jauh dari parkir sepedanya. Dalam hati dia berkata "Usil banget sih, kayak ga ada kerjaan aja" sambil menuntun sepedanya keluar dari tempat parkir. Karena hal itu telah terjadi berulang kali dan hari itu adalah yang ketiga kalinya.
Surat Cinta Dari Sang Idola.
Ternyata keesokan harinya masih saja dia jumpai ada lipatan kertas dengan tulisan yang sama seperti hari sebelumnya. Tapi kali ini tidak dibuangnya di tempat sampah, dimasukkanya kertas itu kedalam tas. Intan pun langsung berlalu meninggalkan sekolah yang telah mulai sepi. Di keesesokan hari, sebelum masuk ke ruang kelas dia masukkan kertas yang kemarin siang itu ke bawah sadel sepedanya, hanya saja ditambahnya tulisan "dari siapa ya..?" Dengan harapan nanti siang Intan akan tahu siapa yang melakukanya.
Alangkah kagetnya Intan ketika dia buka kertas yang waktu pagi diselipkan di bawah sadel sepeda itu. "Ah ..nggak mungkin....nggak mungkin...(titik)" seraya menggelengkan kepala seolah menolak atas apa yang dia lihat dari tulisan kertas itu. "masak sih...dia?, ko bisa ya....." Justru dalam benak Intan semakin banyak pertanyaan ketidak percayaan yang seolah menepis kenyataan yang telah dilihatnya itu. Diantara ketidak percayaan itu, Intan mengayuh sepedanya perlahan meninggalkan sekolah yang aroma udaranya telah mulai akrab dalam alam bawah sadarnya itu.
Hampir semalamam, ditambah setengah hari lebih Intan mencari cara "bagaimana caranya biar dia tahu siapa pengirim yang sebenarnya?" Karena bagi Intan sesuatu yang terlihat oleh mata kepalanya sendirilah yang akan dipercayainya. Intan adalah sosok gadis kecil yang berbeda dengan remaja putri lainya, yang lebih suka ngegosip dan ngumpul-ngumpul tanpa arah. Intan lebih suka sesuatu hal yang realistis dan tidak mudah percaya dengan gosip murahan, tidak mudah terpengaruh oleh rayuan-rayuan gombal, apalagi gombal amoh.
Surat Cinta Dari Sang Idola.
"Tet...tet..tet..." Bel tanda jam terakhir pelajaran telah terdengar, yang berarti juga waktunya untuk pulang. Siang itu terjadi sebuah pemandangan yang berbeda. Intan yang biasanya keluar kelas belakangan, kini dia ikut berhamburan keluar kelas bersama dengan para siswi lainya. Intan pun langsung menuju ke tempat parkir sepedanya, yang memang jaraknya lumayan jauh dari kelas Intan yang berada di pojok area sekolah. Alangkah terkagetnya Intan saat jarak dengan tempat parkiran sepeda semakin dekat. "Haaah...?..masak sih penglihatanku salah." Semakin dia tambah langkah kakinya untuk lebih memastikan apa yang dilihatnya. "Enggak salah sih...tapi....ah enggak mungkin deh.." Maka tambah mendekatlah Intan, meskipun didalam hatinya berkecamuk banyak perasaan, antara tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, deg-degan, seneng, pokoknya perasaan tidak karuan khas remaja gitu...Semakin terlihat jelas sosok yang di kenalnya sering lewat depan kelas itu, sedang susah payah menyelipkan sesuatu ke bawah sadel sepedanya, semakin terlihat jelas sesuatu yang diselipkan itu terjatuh berulang kali.."Dooooor....hayo..lagi ngapain....?"..Sepontan Intan berusaha mengagetkan seseorang yang sedang terlihat repot menyelipkan lipatan kertas kebawah sadel sepedanya. Yang juga semakin memastikan bahwa sosok yang dilihatnya dari kejauhan itu benar adanya, Tony anak OSIS kakak kelasnya.
Lucu juga sih adegan waktu itu, sebuah adegan yang tanpa acting dan tanpa panduan seorang sutradara sekalipun. So natural..hehehe....Sebuah adegan khas remaja tulen, deg-degan, grogi, malu, lucu, tapi seneng, penuh warna bunga-bunga cinta gitu. Tony yang grogi, karena ketahuan aksinya langsung menyodorkan kertas yang telah gagal dimasukkanya ke bawah sadel sepeda itu ke arah Intan. Meskipun grogi Tony masih terlihat cool n manis juga lho....Begitu Intan menyimpulkan dalam hatinya, sambil bertanya "Apaan tuh Ton...?" Hanya sebuah senyuman kecil yang tersungging dengan penuh kepolosan di wajah Tony "Nih.." Seraya meninggaalkan Intan sendirian di tempat parkir karena beberapa siswa lain telah berhamburan untuk mengambil sepedanya masing-masing.
Sebuah pemandangan penuh kenangan, meskipun miskin kata, disitu tersirat ribuan kosa kata yang telah hadir dalam benak dua remaja kecil itu. Intan pun akhirya pulang dengan senyuman kecil dalam setiap gowesan sepedanya, karena cerita manis yang mengisi kehidupanya di siang itu. Sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan sama sekali dalam benak Intan. Sang idola telah memberikan surat cintanya kepada Intan
Surat Cinta Dari Sang Idola.

hmmm jadi inget zaman muda dulu hehehe!
BalasHapuskenangan manis nis!
Terima kasih untuk komentarnya..hehe..ehem...memang masa remaja adalah kenangan manis yang takkan pernah terlupakan, penuh dengan sejuta kenangan...silahkan sering-sering mampir untuk sekedar mengingat kenangan ms lalu..:)
Hapusbang ajari buat jadi penulis fiksi yang benar
BalasHapusIni saja saya masih perlu banyak belajar ko...sering2 aja baca untuk menambah khasanah kosa kata kita..:)
Hapus